Selasa, 01 Oktober 2013

Galena


I.1. Galena Si Timah Hitam (Pb)
         Batuan galena merupakan bahan baku dalam pembuatan logam timah hitam (Pb). Melalui proses pengolahan dan pemurnian, batuan mengandung unsur Pb dipisahkan dari pengotornya untuk diambil logam timah hitam. Kegiatan penambangan galena dapat menggunakan alat-alat berat seperti Backhoe dan Dumptruck ataupun cara tradisional dengan membuat terowongan bawah tanah mengikuti strike endapan galena (Coyote Mining Methode). Beberapa daerah pesebaran mineral Galena di Indonesia antara lain di Aceh Timur - Nangroe Aceh Darussalam, Pasaman - Sumatera Barat, Lebak, Padeglang dan Serang - Jawa Barat, Ponorogo - Jawa Timur dan Wonogiri - Jawa Tengah.
            Dalam bisnis perdagangan, logam Timah Hitam (Pb) merupakan salah satu jenis logam yang banyak dibutuhkan. Hampir 75% industri memerlukan logam ini untuk pembuatan baterai dan eletroda aki karena galena memiiki sifat yang anti korosi dan mampu menahan radiasi dan sisanya untuk produk-produk plumbing dan minyak, pelapis pada ruangan rontgen serta reaktor nuklir. Di Indonesia, kebutuhan Pb masih belum dapat dipenuhi kebutuhannya sehingga logam ini sangat dicari untuk kebutuhan industri. Sebelum tahun 2009, mineral galena banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan industri luar negeri terutama ke China. Setelah dikeluarkannya Undang - Undang No 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara yang mengatur ekspor bahan baku mineral menyebabkan para eksportir tidak dapat lagi mengirim langsung dalam bentuk batuan/mineral ke luar negeri, tetapi harus diolah dulu setidaknya menjadi bullion (batangan) agar memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan meningkatkan pendapatan asli daerah sumber bahan baku galena.

“Kebutuhan logam Pb di Indonesia saat ini masih belum dapat terpenuhi sehingga logam ini masih sangat dicari. Diharapkan, dengan UU No 4 tahun 2009 yang dikeluarkan oleh  pemerintah diharapkan para eksportir tidak hanya mengirim logam Pb ke luar negeri, tetapi dapat juga memenuhi kebutuhan dalam negeri akan timah hitam.”

I.2. Morfologi Galena dan Keberadaannya  
Batuan galena terjadi sebagai akibat dari proses hydrothermal magma. Galena biasanya ditemukan di sekitar batuan metamorf dan batuan beku. Singkapan mineral galena bisa terlihat di lereng perbukitan atau tepian sungai di daerah batuan metamorf karena pada saat terjadinya galena larutan hydrothermal menerobos lapisan batuan metamorf atau batuan beku dan mengikuti jalur rekahan - rekahan pada batuan. Pada beberapa tempat, keberadaan mineral galena berdekatan ataupun didapatkan berasosiasi dengan unsur-unsur atau mineral-mineral lainnya seperti : tembaga, emas, zink, perak dan lain sebagainya.
Galena atau timah hitam keberadaannya di alam berupa senyawa PbS. Apabila unsur sulfida dominan pada batuan galena maka secara fisik akan terasa aroma sulfida di lokasi batuan tersebut. Mineral-mineral lain yang biasanya ditemukan dekat dengan galena yaitu Sphalerit, Pyrite (FeS2) dan Kalcopyrite (CuFeS2). Memisahkan mineral-mineral pada batuan galena harus memperhatikan sifat mineral tersebut baik sifat fisik, kimia dan mineralogi. Galena PbS memiliki karakteristik sebagai berikut : kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 7,2 s/d 7,6, kilap metal, warna abu-abu dengan garis hitam saat digores; Sphalerit ZnS mempunyai karateristik : kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 3,9 s/d 4,2, kilap metal, warna kuning,coklat atau hitam, goresan warna orange kuning dan Chalcopyrite CuFeS2 bercirikan kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 4,1 s/d 4,3, kilap metal, warna kuning tembaga, goresan hitam kehijauan.
“Bahan galian logam lainnya yang tertutama adalah Galena yang merupakan bijih timah hitam (Pb). Mineralisasi galena terkait dengan mineralisasi emas tersebar di kecamatan Cibeber, Cipanas, Panggarangan dan Malingping.”